Category: Kesaksian Buddhis Published: Tuesday, 10 October 2017

Cahaya Kasihnya Menuntun Hidup Saya
Dituturkan langsung oleh

 

Namo Kwan She Im Phu Sha.

Terpujilah Avalokitesvara Bodhisattva yang penuh dengan welas asih.

Beberapa waktu yang lalu, saya diminta oleh penerbit untuk menceritakan kembali suatu kejadian yang sebelumnya pernah saya sampaikan kepadanya, dimana kejadian ini banyak mempengaruhi perjalanan hidup saya. Karena dikatakan bahwa hal ini dapat membantu umat Buddha sehingga dapat meningkatkan keyakinan kepada Buddha Dharma, maka saya mencoba mengingat kembali sejelas-jelasnya dan menuturkannya kembali kejadian ini sebagaimana yang masih saya ingat.

Kejadian ini sebenarnya telah berlalu hampir 43 tahun yang lalu, akan tetapi hal ini masih sangat segar dalam pikiran saya seperti baru terjadi dalam waktu dekat ini. Pada akhir tahun 1961 tepatnya di bulan Desember, saya yang pada saat itu tinggal berdekatan dengan Vihara Bodhi Tjuci diajak oleh seorang ibu pengurus vihara untuk mendengarkan khotbah Dhamma dari Sukong (Alm. Bhante Ashin Jinnarakkhita) yang akhirnya saya ketahui bahwa Sukong datang ke Medan dalam rangka menyebarkan Buddha Dharma dan untuk itu beliau akan menetap di Vihara Bodhi Tjuci untuk beberapa waktu.

Walaupun Sukong saat itu menjelaskan banyak sekali tentang agama Buddha, tetapi yang masih saya ingat adalah jawaban Sukong pada seorang ibu yang bertanya demikian, “Ada orang yang mengajak saya sembahyang ke vihara, tetapi saya sibuk mengurus keluarga dan tidak punya waktu. Jadi bagaimana bisa belajar beragama Buddha?”

Berikut ini merupakan jawaban dari Sukong, walaupun saya tidak mengingat kata per kata tetapi intinya adalah sebagai berikut. “Kita umat Buddha tidak harus ke vihara untuk menjadi umat Buddha. Bila ke vihara untuk bergosip dan membicarakan kejelekan orang lain, itu bukan belajar agama Buddha. Bila kita sibuk mengurus rumah tangga, sewaktu akan tidur kita melafalkan ‘Nan Mo O Mi Thuo Fo’ atau ‘ Nan Mo Kwan She Im Phu Sat’ itu juga disebut agama Buddha.” Sukong kemudian juga menjelaskan lebih lanjut bahwa kita dapat mempraktekkan agama Buddha dimana saja. “Bila kita melihat ada orang tua yang mau menyeberang jalan, kita bantu dan kita tuntun itu juga merupakan praktek Dhamma. Bila ada suami istri yang cekcok, kita akurkan agar keluarganya tetap harmonis itu juga berarti kita melaksanakan Dhamma. Begitu juga apabila kita melihat ada orang yang kelaparan, kita memberikan sepiring nasi, itu juga berarti kita melaksanakan Dhamma. Jadi agama Buddha itu dapat dipraktekkan dimana saja”.

Nah... setelah acara khotbah Dhamma tersebut usai, saya menceritakan permasalahan yang sedang saya hadapi kepada ibu pengurus vihara tersebut, yang sering kita panggil “Ko Po”. Saya menceritakan kesulitan saya untuk mengasuh anak ketiga saya yang masih kecil (anak paling bungsu pada saat itu), karena selain sulit diasuh, anak saya ini juga tidak mau lepas dari gendongan saya. Sepertinya ada ‘sesuatu’ dengan anak saya ini. Entah kenapa, sejak lahir beliau selalu menangis bila tidak digendongan, walaupun hanya sebentar saja. Hal ini sungguh berbeda dengan kedua saudaranya, yang mana hal ini telah membuat saya kewalahan sehingga saya harus mengendongnya kapan saja, baik selagi memasak, mencuci atau membersihkan rumah. Bahkan bila saya ingin membersihkan diri, saya harus menunggu suami saya pulang dari kerja, sehingga beliau dapat menggantikan saya mengendong anak kita. Selain itu, anak saya selalu menangis di malam hari tanpa sebab sehingga kami sedikit terganggu karena harus selalu bangun berulang-ulang untuk mengurus anak saya ini.

Setelah mendengar itu semua, Ko Po meminta saya untuk menemui Sukong dan akhirnya saya memberanikan diri untuk meminta petunjuk dari Sukong atas permasalahan ini. Sukong terlihat begitu memperhatikan masalah yang saya ceritakan dari awal hingga akhir, kemudian beliau meminta saya mengambil segelas air dari rumah dan beliau membacakan paritta sambil mengelus kepala anak saya. Setelah itu, beliau meminta saya untuk memberikan air tersebut kepada anak saya setiap hari dan saya pun menjalankan apa yang dipesan oleh Sukong.

Aneh bin ajaib, sehari demi sehari, anak saya yang biasanya tidak dapat dilepas dari gendongan ini pelan pelan dapat saya tinggalkan meski sebentar-sebentar saja diawalnya, tetapi semakin lama semakin dapat saya lepas sehingga saya lebih bebas dalam menyelesaikan pekerjaan saya sebagai ibu rumah tangga. Saya sangat gembira melihat hal ini dan keyakinan saya kepada Buddha Dhamma mulai muncul dan semakin hari semakin kuat, hal ini disebabkan karena saya melihat sendiri secara langsung manfaatnya dari pembacaan paritta ataupun pelafalan nama para Buddha dan Bodhisattva.

Meski anak saya sudah tidak perlu digendong lagi, tetapi kebiasaan menangis tanpa sebab di malam hari belum sembuh sepenuhnya. Selang beberapa hari, saya kembali menjumpai Ko Po dan menceritakan kemajuan dan masalah yang tersisa.

Menyadari manfaat dan pengaruh yang begitu besar atas doa-doa dari pembacaan paritta yang dilakukan oleh Sukong, maka saya meminta Ko Po untuk menjumpakan saya sekali lagi dengan Sukong. Betul saja, selang beberapa hari keinginan saya terpenuhi. Sewaktu saya berjumpa dengan Sukong, dengan suka cita saya mengucapkan terima kasih kepadanya atas bantuan yang diberikan dan saya kembali menceritakan kepada Sukong bahwa kebiasaan anak saya yang selalu menangis tanpa sebab di malam hari masih berlanjut. Sukong lalu meminta saya melakukan hal yang sama yaitu untuk menyediakan segelas air dari rumah dan beliau membacakan paritta seperti sebelumnya. Sewaktu air doa itu hampir habis diberikan kepada anak saya, beliau sudah tidak lagi menangis di malam hari. Kekuatan para Buddha dan Bodhisattva memang luar biasa.

Sejak saat itu, setelah mendengarkan khotbah Dhamma dan merasakan manfaat dari pembacaan paritta, serta kasih yang dipancarkannya kepada keluarga saya, keyakinan saya terhadap Buddha Dharma semakin kuat. Saya selalu berusaha menanamkan Buddha Dhamma pada anak-anak saya sehingga selain mempunyai keyakinan yang kuat, anak-anak saya semuanya mempunyai mata pencaharian yang benar sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Guru Junjungan Kita, Buddha Sakyamuni. Saya juga selalu menyediakan satu ruangan khusus untuk berpuja bhakti, dan hingga saat ini selain mengagungkan para Buddha dan Bodhisattva melalui pelafalan nama Buddha dan Bodhisattva, saya juga menanamkan kebiasaan baik ini pada anak-anak saya.

Semoga sedikit kesaksian yang saya berikan ini dapat menginspirasi saudara-saudari seDharma untuk memiliki keyakinan yang kuat pada Buddha Dharma. Semoga kita semua dapat melaksanakan Dharma, melindungi Dharma, sehingga Dharma akan berbalik melindungi kita semua. Dengan demikian, kita dapat hidup bahagia baik di alam ini maupun alam sesudahnya.

 

 

Hits: 27