Category: Kesaksian Buddhis Published: Thursday, 12 October 2017

Kekuatan Metta Yang Mengalahkan Kebencian
Dituturkan langsung oleh Bapak Ratna Surya Widya, Dokter

 

Ketika berdinas di Rumah Sakit Jiwa di Magelang (sekitar tahun 1982) saya pernah terjebak dalam suatu situasi yang tidak enak, yaitu ditempatkan dalam suatu posisi di mana saya harus saling menyerang dengan seorang karyawan senior dari profesi lain. Tiada hari tanpa rumor dan gosip yang membakar emosi, dan saya tidak tahu bagaimana harus keluar dari situasi tersebut.

Pada suatu saat saya mendengar dari seorang pandita senior yang bertempat di kota tersebut yaitu Romo Samijo bahwa nasehatnya yang diberikannya kepada umat Buddha dalam soal hutang-piutang sangat manjur. Beliau bercerita bahwa ada seorang umat bernama A pernah berhutang kepada B, ia berjanji akan membayar kembali hutang tersebut setelah beberapa tahun kemudian. Setelah jatuh tempo B menagih hutang tersebut kepada A, tetapi caranya mungkin agak kasar sehingga A merasa tersinggung dan tidak mau membayar meskipun uangnya ada untuk membayar hutang itu. Berkali-kali B menagih dan berkali-kali pula A tidak mau membayar, segala cara sudah dipakai namun tidak berhasil.

Akhirnya B berjumpa dengan Romo Samijo dan menceritakan kesulitannya tersebut. Oleh Romo Samijo ia dianjurkan untuk mengirimkan getaran metta kepada A dan menungu hasilnya. Ternyata nasehat itu sangat manjur. Beberapa hari kemudian tanpa ditagih A membayar hutangnya kepada B berikut bunganya disertai pernyataan maaf! Saya pikir apa salahnya saya mencoba teknik tersebut. Pada malam harinya sekitar pukul 12.00 malam di hadapan altar Sang Buddha saya berusaha mengirimkan getaran metta kepada oknum yang ‘bermusuhan’ tersebut. Dan.... keesokan harinya sekitar pukul 08.00 pagi, tanpa diundang ia masuk ke kamar kerja saya, menghampiri saya dengan senyum di bibir, mengulurkan tangan kananya untuk bersalamana dan mengajak ‘damai’.

Luar biasa......

 

Dewa Penolong?

Sepulang saya dari pembinaan kesehatan jiwa di Kantor Walikota Jakarta Utara (pada tahun 1994), saya mengendarai mobil belok dari Bypass menuju kawasan Kelapa Gading Permai. Setelah melewati jembatan tiba-tiba di depan mobil ada lima anak sekolah sedang menyeberang jalan. Secara refleks saya menginjak rem. Rupanya ada dua anak di depan maju dan dua anak yang berada di belakang mundur (tidak jadi menyeberang), lha yang ditengah mana? Rupanya anak yang persis di tengah tertabrak oleh mobil saya sehingga ‘terbang’ sekitar lima meter ke depan. Sepintas saya lihat anak itu jatuh telungkup (tiarap). Dengan perasaan cemas luar biasa saya pinggirkan mobil dan mundur. Pada saat itu rupanya ada orang dewasa di situ yang telah mengangkat anak tersebut ke teras warung di pinggir jalan dan terdengar suara tangis ketakutan yang cukup keras. Hati saya lega karena itu artinya ia masih hidup!

Saya segera menghampiri anak tersebut, seorang anak perempuan yang sangat kurus berusia sekitar delapan tahun dengan seragam putih dan rok berwarna merah tua. Saya periksa seluruh tubuhnya dari kepala sampai ke kaki, rupanya tidak ada tulang yang patah atau retak. Setelah diperiksa dengan teliti, ternyata pada mata sebelah kanan ada sedikit pendarahan, di bawah hidung ada sedikit lecet, namun lutut dan sikunya tidak ada luka sama sekali. Agak aneh, karena posisi anak perempuan tersebut bukan terlentang, tetapi kepalanya menghadap ke aspal, jadi seharusnya telapak tangan, sikut dan lututnya pasti menyentuh aspal terlebih dahulu.

Atas jasa baik seorang pedagang buah yang berkenan menjadi saksi, saya mengantar anak tersebut ke rumah orangtuanya di perumahan kumuh di pinggir sungai dekat lokasi kecelakaan. Selanjutnya anak tersebut saya bawa ke Klinik Mdikarya dan setelah diobati saya antar kembali ke rumahnya. Sampai hari ini saya tidak habis pikir atas kejadian tersebut dan memikirkan kemungkinan bahwa anak tersebut mestinya “diterima” oleh “dewa penolong” dan diletakkan perlahan-lahan di atas aspal jalanan. Saya sangat yakin bahwa anak tersebut tertabrak oleh mobil saya, karena ada bekasnya. Pada kap mpbil saya ada sedikit lekukan akibat tersentuh oleh siku anak itu. Saya berdoa semoga kejadian tersebut tidak terulang lagi.

 

Yakkha Penolong?

Kisah ini saya dengar sendiri dari Romo Soegondo Djojosoediro almarhum (Romo Gondo) di Magelang sekitar tahun 1980an, ketika saya berdinas di sana. Romo Gondo adalah seorang pandita senior di Jawa Tengah anggota Majelsi Pandita Buddha Dhamma Indonesia (Sekarang Magabudhi) yang bertempat tinggal di Salatiga. Sebagai seorang pandita, beliau sering pergi berkhotbah ke vihara atau cetiya yang terpencil, dari kota sampai ke pelosok-pelosok desa.

Suatu kali menjelang senja beliau ingin menyeberang jalan raya Semarang – Surakarta yang ramai dilalui oleh bis-bis besar yang suka ngebut. Karena ingin cepat-cepat menyeberang jalan, tanpa terasa kakinya sudah membawa tubuhnya berada di aspal jalan, sekitar 60 cm dari trotoar. Karena sudah ada umur, maka penglihatan Romo Gondo sudah kurang awas, sehingga ketika ada bis besar yang sedang ngebut tidak diperhatikan. Tanpa sadar tiba-tiba tubuhnya sudah berdiri diats rumput di tepi jalan dan selamatlah nyawa beliau dari hantaman bis antar kota yang sedang ngebut tadi. Setelah jalanan agak sepi akhirnya beliau berhasil menyeberang. Beliau segera dihampiri leh seorang pedagang rokok. Pedagang rokok itu mengatakan bahwa tadi ia melihat tubuh Romo Gondo diangkat dan ditarik mundur ke tepi jalan oleh sesosok makhluk yang tinggi besar..... Mungkinkah itu Yakkha yang dijaman Sang Buddha telah bertekad untuk melindungi siswa Sang Buddha yang menyebarkan Buddha Dhamma?!

 

[Dikutip dari buku Melangkah dalam Dhamma, Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, Jakarta, 2001]

 

 

Hits: 33