Category: Kesaksian Buddhis Published: Thursday, 12 October 2017

Kusala Kamma Yang Langsung Berbuah
Dituturkan langsung oleh Ibu Mettasari, Dokter

 

Tanggal 12 Mei 1998, jalan di depan rumah saya yang biasanya kenderaannya padat merayap / ramai dilalui berbagai macam kenderaan, tiba-tiba menjadi sepi karena ternyata tak satupun kenderaan diijinkan untuk melintas. Pada saat yang hampir bersamaan, telephone berdering dari berbagai penjuru, baik yang menanyakan keadaan kami, maupun yang menginformasikan situasu di sekitar rumah / kantornya. Saat itu saya merasa kalau sesuatu yang kurang menyenangkan bisa terjadi, maka saya segera mengajak suami membaca paritta kira-kira mulai pukul 18.00 dan ternyata... selama kami membaca paritta, banyak sekali suara yang menakutkan terdengar, mulai dari suara besi ditarik dan dirobohkan, suarau sorak sorai dan tepuk tangan sekelompok orang memecahkan keheningan malam yang semakin mencekam, sampai suara ledakan yang sangat keras seperti suasana perang di film-film (pertama kali dalam hidup merasakan suasaan seperti ini). Kami semakin khusuk membaca paritta yang terus kami lantunkan sampai kira-kira pukul 22.00 di mana tidak terdengar lagi suara sama sekali.

Saat itu kami merasa aman, seolah-olah lepas dari mara bahaya yang sangat mencemaskan. Karena fisik pun terasa lelah, kami langsung tertidur nyenyak. Namun kira-kira pukul 5.30 pagi, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara telephone dari seorang teman yang tinggal di belakang rumah. Katanya semalaman ia terus terjaga (tidak mau tidur) karena merisaukan kobaran api yang menyala sedemikian besarnya di depan rumah kami. Sejak semalam pula ia terus mencoba menelephone kami ingin mengetahui keadaan rumah kami tetapi tidak pernah berhasil / nada telephonenya selalu sibuk (padahal telephone tidak rusak dan kami tertidur nyenyak. Mendengar informasi tersebut kami segera bangun untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata dua buah mobil tepat di depan rumah kami sudah ditaruk keluar dari garasi dan hangus terbakar, tapi mobil dan rumah kami dalam keadaan baik-baik saya dan ketika itu saya melihat ada seorang pemuda tak dikenal menceritakan kalau sebenarnya semalam ada juga yang ingin menyeberang ke rumah kami tapi ia melarangnya. Karena itu ia menyarankan agar kami segera memindahkan mobil ke tempat yang lebih aman, kuatir nanti siang akan ada gelombang kedua yang datang kembali untuk merusak. Setelah memberi nasehat tersebut ia pun berlalu ketika saya masih tertegun merasakan kebaikan hatinya yang tulus!

Siang hari dipertengahan bulan November 1998 saat kami baru saja selesai memperingati tujuh hari meninggalnya ibu kami tercinta, sebelum pulang ke rumah kami mampir ke rumah jompo untuk menyumbangkan berbagai keperluan atas nama ibu saya almarhum. Saat itu pembantu saya menelephone dan menyarankan agar saya jangan pulang dulu ke rumah karena menurut radio yang didengarnya banyak mobil yang disekitar rumah kami yang diganggu dan dijalan raya di depan rumah kami ada ribuan massa yang datang entah dari mana. Mendapat informasi seperti itu saya langsung meminta pembantu saya yang juga beragama Buddha untuk bersikap waspada dan terus membaca paritta. Malam itu kami menginap di rumah kakak. Ketika pagi harinya kami pulang ke rumah, banyak rumah tetangga yang kaca rumahnya pecah dan dijarah tapi rumah kami selamat! (Seandainya waktu itu kami tidak berdana ke rumah jompo dan langsung pulang ke rumah, apa yang akan terjadi?). Apakah keberuntungan / keselamatan kami akibat kusala kamma yang langsung berbuah? Manfaat baca paritta? Atau hanya kebetulan?

 

[Dikutip dari buku Melangkah dalam Dhamma, Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, Jakarta, 2001]

 

 

Hits: 31