Category: Mengenal Siswa Sang Buddha Published: Saturday, 04 November 2017

Sopaka
Si Anak Buangan Yang Mencapai Arahat

 

Nasib manusia itu tidak bisa diiyakan, dinilai atau tergantung karena pandangan dan anggapan orang saja. Seringkali anggapan banyak orang dan masyarakat itu keliru di dalam menilai keberadaan seseorang sebagaimana sukarnya banyak orang yang mampu mengakui bahwa anggapan tentang dirinya yang selalu benar tidaklah sepenuhnya demikian, begitu pula sama halnya dengan sukarnya menghapus anggapan di dalam memandang orang lain yang merasa selalu benar.

Orang yang baik dianggap buruk, orang yang jahat dianggap baik, dan bahkan orang yagn sesungguhnya masih hidup malah dinilai telah mati. Sopaka adalah seorang anak yang dinilai keliru oleh masyarakat, ia korban dari anggapan masyarakat atau banyak orang yang selalu merasa benar di dalam menilai orang lain. Banyak orang mengalami nasibnya karena penilaian orang lain.

Sopaka adalah anak yang lahir di kota Sravasti, dari seorang ibu yang amat miskin, memiliki sejarah hidup yang tragis meski kemudian akhirnya mencapai Arahat. Ketika masih berada dalam kandungan ibunya, dan ketika saat kelahirannya akan tiba ibunya mengalami koma. Dalam keadaan demikian, ibunya dikiri oleh saudara-saudaranya telah mati, dan segera ibunya itu dibawa ke pemakaman untuk dikremasikan, termasuk janin Sopaka di dalam rahim ibunya.

Namun, bila memang nasih belum ditakdirkan demikian, kematian yang telah divonis oleh manusia itu tentu saja tidak berlaku. Menjelang ibunya dikremasi, justri bayi dalam kandangannya itu dapat diselamatkan oleh seorang makhluk halus yang memberikan halangan bagi nyalanya api kremasi dengan cara menurunkan hujan.

Maka, mereka yang hendak mengkremasi ibunya itu punjadi pada melarikan diri. Akhirnya bayi dalam kandangan ibu yang koma itu dapat lahir dengan selamat, berkat bantuan makhluk halus yang penolong, meski ibunya sendiri tak tertolong.

Makhluk halus penolong itu pun segera menggendong si bayi beruntung itu, dan membawanya kepada seorang penjaga. Bayi itu berada dalam asuhan sang penjaga dan penjagaan makhluk halus, memperoleh makanan yang sesuai sehingga dapat tumbuh dengan sehatnya. Si penjaga itu pun akhirnya mengangkat bayi itu menjadi anaknya, dibesarkannya bersama dengan anak laki-lakinya yang bernama Suppiya.

Karena bayi itu lahir dipemakaman, maka bayi itu pun diberi nama Sopa, yang artinya, "Si Anak Buangan? Sopaka tumbuh sehat bersama dengan Suppiya, Di suatu pagi ketika Hyang Guru Agung, Buddha Sakyamuni sedang menjalangkan kebiasaannya mencari-cari dengan mata kebijaksanaanNya siapa yang dapat menerima ajaranNya, Beliau melihat seorang anak sedang berjalan menuju ke kuburan. Anak itu adalah Sopaka yang waktu itu berusia tujuh tahun.

Didorong oleh kekuatan karma lampaunya, Sopaka kemudian mendekati Guru Sakyamuni Buddha dengan pikiran yang bahagia dan menghormatiNya. Hyang Buddha pun kemudian mengajari Sopaka Dharma. Begitu cerdasnya anak ini sehingga cepat tahu akan makna hidup sesungguhnya yan sesuai Buddhadharma, Sopaka pun akhirnya memutuskan diri untuk hidup meninggalkan keduniawian.

Meski sebagai anak yang dipungut, Sopak sangat berbakti kepada orang tua angkatnya. Untuk menjalani hidup kesucian dan menjadi siswa Hyang Buddha, ia meminta izin terlebih dahulu kepada ayahnya . Lebih dari itu, Sopaka juga membawa ayahnya memberi hormat kepada Hyang Buddha, dan kemudia memohon agar menerima anaknya.

Hyang Buddha menerima Sopaka menjadi siswanya. Berbagai ajaran Dharma diperoleh Sopaka dari Hyang Buddha, dan semua itu dicerapkan dengan kecerdasannya yang mengagumkan. Terdapat ajaran Buddha yang sangat meresap ke dalam diri Sopaka yakni ajaran tentang cinta kasih persaudaraan. Sopaka meresapi ajaran tersebut dan melatih serta mempratekkannya.

Sebagai seorang anak buangan, siswa Hyang Buddha ini kerap menjalani pelatihan dirinya dipekuburan. Dari kuburan kembali ke kuburan, dan karenanya aku tak mungkin lepas dari kuburan, begitu mungkin pikir Sopaka yang melatih dirinya dengan menetap di pekuburan. Justru dengan cara seperti itulah Sopaka akhirnya lebih cepat mencapai keberhasilan di dalam meditasi.

Kuburan adalah suatu simbol mengenai ketidakkekalan atau ketiadaan. Orang yang telah mati anitya akan dibawa ke kuburan untuk dimakamkan atau dikremasikan, orang itu kemudian dianggap telah tiada. Dengan dasar sejarah hidupnya yang telah dianggap tiada, Sopaka meyakini justru itulah modal terbesarnya untuk cepat meraih keberhasilan dalam mencapai tingkat kesucian.

Satu hal penting yang patut mendapatkan catatan dan diingat dari apa yang selalu Buddha ajarkan, adalah Hyang Buddha selalu mengajarkan sesuai dengan latar belakang orang yang diajarkan. Latar belakang dan sejarah kehidupan orang yang bersangkutan adalah modal besar bagi orang itu sendiri dalam meraih keberhasilan pelatihan diri. Sopaka yang lahir di pekuburan menjalani pelatihannya di pekuburan. Sopaka yang telah dianggap tiada sejak semula, justru menjalani hidup pelatihannya di tengah-tengah orang yang tiada. Dari tiada kembali kepada ketiadaan.

Melatih diri di pekuburan memungkinkan Sopaka cepat merealisasi makna kekosongan dan ketiadaan. Keterikatan terhadap keakuan sama sekali mudah dilenyapkan, sehingga dalam meditasi, Sopaka cepat meraih tingkatan jhana. Kemudian ketika tingkat jhana-jhana telah diperoleh, Sopaka mengembangkan pandangan terang dan akhirnya mencapai tingkat Arahat.

Kehadirannya yang secara dramatis dan tragis dengan lahir di kuburan dan dianggap tidakada ternyata membawa dirinya berujung kepada keberhasilan dalam jalan kesucian. Tak seberkas pun ada rasa benci terhadap peristiwa kelahirannya itu, kepada masyarakat yang menilai telah tiada, kepada orang-orang yang menganggap dirinya tidak ada. Ajaran Buddha mengenai cinta kasih persaudaraan yang diperkenalkan pertama kali kepadanya, sungguh membuat dirinya sama sekali tidak mendendam dan membenci akan masa lalunya.

Sopaka pun akhirnya dapat mengembangkan cinta kasih persaudaraan. Setelah berhasil mencapai tingkat Arahat, ia pun kembali mengajarkan kepada para Bhikkhu yang tidak pernah membeda-bedakan siapa saja orang yang ada. Cinta kasih persaudaraan yang tidak diskriminatif diantara orang-orang yang bersahabat.

Untuk semua makhluk dengan tanpa membedakan dan tanpa batas cinta kasih itu harus ditujukan. Cinta kasih persaudaraan yang universal, mencakup seluruh dunia, seluruh alam semesta, semua makhluk, semua manusia dalam segala usia. Sopaka, si Anak Buangan itu menyadari dirinya, melatih dirinya, bahwa ia memang bukan apa-apa melainkan bagian dari kekosongan cinta kasih alam semesta, dan justru dengan meniadakan dirinya ia akhirnya berada dalam kemuliaan kesempurnaan Arahat.

 

[Dikutip dari Majalah Suara Bodhidharma.]

 

 

Hits: 24