Category: Mengenal Siswa Sang Buddha Published: Tuesday, 12 December 2017

Yang Ariya Bhadda Kapilani Theri

 

Bhadda Kapilani dilahirkan di dalam keluarga yang makmur dari suku Kosinya. Bhadda tumbuh menjadi dewasa di Sagala, ibukota dari Kerajaan Madda. Pada suatu hari ketika Bhadda masih kecil, ia melihat seekor burung gagak memakan serangga dan serangga tersebut kelihatan sangat menderita bergeliat geliut diantara benih wijen kering. Kejadian tersebut sangat menakutkan Bhadda. Tetapi yang lebih menakutkan lagi ketika beberapa anak yang lebih tua mengatakan bahwa kematian serangga tersebut merupakan kesalahan Bhadda. Walaupun kejadian tersebut terlihat seperti biasa, tetapi tidak menurut Bhadda. Semenjak kejadian itu, Bhadda mengambil keputusan untuk melepaskan kehidupan duniawi.

Ternyata kejadian yang sama menimpa seorang anak laki-laki, yang kelak menjadi suami Bhadda, bernama Kassappa. Ketika itu Kasappa sedang berdiri di tengah-tengah sawah yang telah dibajak. Kasappa yang pada saat itu masih kecil melihat cacing-cacing sedang dimakan oleh burung-burung. Dia merasa bersalah atas penderitaan itu. Sama seperti Bhadda, ia memutuskan untuk menjadi pertapa.

Masing-msing tumbuh di kedua tempat yang berbeda. Bhadda dan Kasappa tetap pada keputusannya untuk menjadi pertapa. Keduanya bertekad bahwa mereka tidak akan menikah. Keputusan ini membuat kedua orang tua mereka menjadi sedih.

Orang tua Kasappa membujuk Kasappa untuk menikah. “Kasappa, kami ingin melihat kamu berkeluarga”, ucap ayah Kasappa.

Namun Kasappa menolak, “Maaf, ayah, saya sudah memutuskan untuk tidak menikah.”

Orangtua Kasappa mendesak terus supaya Kasappa menikah, akhirnya ia menyetujui, tetapi dengan sebuah persyaratan.

“Ayah, Ibu, aku akan menikah, tetapi carilah wanita yang wajahnya mirip dengan patung yang akan aku buat", kata Kasappa kepada kedua orangtuanya.

Kasappa lalu membuat sebuah patung wanita yang sangat cantik. Orangtuanya kemudian mengutus orang untuk mencari wanita cantik di seluruh negeri yang mirip dengan patung itu. Akhirnya ditemukanlah wanita cantik yang menyerupai patung yang dibuat oleh Kasappa itu.

“Kami telah menemukan wanita cantik yang dicari, ia bernama Bhadda Kapilani”, lapor seorang yang ditugaskan itu kepada orang tua Kasappa.

Mereka amat bahagia karena anaknya akan menikah. Sungguh luar biasa dapat menemukan wanita yang persis sama seperti patung itu. Kegembiraan itu juga dirasakan oleh orangtua Bhadda.

“Mari segera kita persiapakan pesta pernikahan Kasappa dengan Bhadda!” ucap ayah Kasappa dengan bersemangat.

Kemudian kedua orangtua Kasappa dan Bhadda merencanakan pesta pernikahan untuk mereka secara rahasia. Mengetahui rencana pernikahan tersebut, Bhadda dan Kasappa berusaha untuk membatalkannya dengan cara menulis surat kepada kedua orangtuanya, yang berisi bahwa mereka akan menjadi pasangan suami istri yang tidak harmonis.

Tetapi taktik surat tersebut tidak berhasil dan pesta pernikahan tetap dilangsungkan. Namun sesudah pernikahan tersebut, Kasappa dan Bhadda sepakat untuk tidak mewujudkan kehidupan berumah tangga, mereka sepakat untuk meninggalkan hidup keduniawian. Mereka saling memotong rambut mereka satu sama lain, mengenakan jubah kuning, memberikan kebebasan kepada pelayan-pelayan dan menjadi pertapa.

Kasappa dan Bhadda meninggalkan rumah, Bhadda berjalan mengikuti Kasappa, mereka menyadari bahwa berjalan besama-sama kesana kemari akan menimbulkan prasangka, maka mereka memutuskan untuk berpisah. Kasappa mengambil arah kanan, sedangkan Bhadda mengambil arah kiri.

Setelah berselang beberapa waktu Kasappa menjadi pengikut Sang Buddha dan ditabhiskan (upasampada) menjadi Bhikkhu, Bhadda tinggal di Titthiya rama dekat hutan Jeta di Savatthi.

Setelah kurang lebih 5 tahun pada saat Maha Pajapati Gotami membentuk Sangha Bhikkhuni, kemudian Bhadda ditabhiskan menjadi anggota Sangha Bhikkhuni.

Kasappa, Sang Putera Pewaris Sang Buddha, penuh konsentrasi yang mengetahui bahwa ia telah hidup dari masa lampau. Ia telah melihat surga dan neraka, Kasappa memutuskan lingkaran tumimbal lahir, mencapai Arahat. Karena ketiga pengetahuan yang ia miliki maka ia disebut Brahmana Pemilik Tiga Pengetahuan.

Dengan cara yang sama Bhadda Kapilani pemilik Tiga Pengetahuan, setelah meninggalkan kematian, melanjutkan sisa kehidupan, Jasadnya yang terakhir kali setelah menaklukkan Mara dan para pengikutnya.

Setelah melihat bahaya kehidupan dunia, kami berdoa menjadi pertapa dengan memusnahkan kekotoran batin dan kami mencapai Nibbana.

 

[Therigatha Stories, Pali Text Society, London.]

 

 

Hits: 69