Category: Mengenal Siswa Sang Buddha Published: Thursday, 14 December 2017

Yang Ariya Patacara Theri

 

Patacara puteri seorang saudaragar kaya dari Savatthi. Ia sangat cantik. Orangtua Patacara sangat menyayangi dan menjaganya dengan ketat. Oleh karena itu ketika Patacara menginjak umur 16 tahun, ia selalu dikelilingi oleh beberapa penjaga, untuk melindungi dari gangguan para pemuda. Karena selalu dijaga oleh para penjaga dan dikelilingi oleh para pelayan dirumahnya, Patacara terlibat hubungan asmara dengan salah seorang pelayan dirumahnya. Hubungan tersebut berlangsung tanpa diketahui oleh orangtua Patacara.

Pada suatu hari, orangtua Patacara merencanakan pernikahan dengan seorang pemuda dari golongan yang sederajat. Mengetahui hal tersebut membuat Patacara menjadi sangat terkejut. Patacara tidak mau menikah dengan pemuda pilihan orangtuanya, karena itu ia melarikan diri meninggalkan kota bersama kekasihnya, pelayan orangtuanya, pergi melalui pintu gerbang utama, dan tinggal di sebuah desa kecil, jauh dari Savatthi.

Patacara, kini menjadi isteri orang miskin. Suaminya menjadi petani, dan Patacara harus melakukan seluruh pekerjaan rumah tangga sendiri, hal yang sebelumnya tidak pernah ia kerjakan.

Tidak lama kemudian, Patacara hamil dan pada saat persalinan sudah dekat, Patacara minta izin kepada suaminya untuk mengantarnya pulang ke rumah orang tuanya.

“Suamiku, disini tidak ada orang yang merawatku apabila aku melahirkan anak kita, izinkanlah aku pulang ke rumah orangtuaku”, mohon Patacara. Namun suaminya tidak mengijinkannya, beberapa kali Patacara meminta izin namun jawabannya selalu lama, hingga pada suatu hari ketika suaminya sedang pergi bekerja di sawah, Patacara memutuskan untuk pergi ke rumah orangtuanya sendirian dan memberitahukan kepergiannya kepada tetangganya.

Sewaktu suaminya kembali dan diberitahukan oleh tetangganya tentang kepergian isterinya, maka dengan segera ia menyusul. Setelah menemukan Patacara, suaminya memohon kepada Patacara untuk kembali ke rumah mereka tapi Patacara menolak, dan terus berjalan.

Di tengah perjalanan, Patacara merasa kesakitan karena bayinya akan segera lahir. Akhirnya Patacara melahirkan anak laki-lakinya di semak-semak. Setelah Patacara melahirkan, suaminya membawanya pulang bersama bayi laki-lakinya, kembali ke rumah mereka.

Beberapa tahun kemudian, Patacara hamil anaknya yangkedua, pada saat akan melahirkan Patacara juga ingin pulang ke rumah orangtuanya. Patacara ingin melahirkan anaknya di rumah orangtuanya. Dengan menuntun anaknya yang pertama Patacara berjalan pulang menuju rumah orangtuanya, suaminya terus mengikuti Patacara. Namun ditengah perjalanan menuju Savatthi, hujan badai menerpa mereka.

“Suamiku, carikanlah aku tempat berlindung”, teriak Patacara dengan muka yang pucat. Dengan segera suami Patacara mencarikan tempat perlindungan untuk isterinya. Ketika suami Patacara sedang memotong dahan pohon, seekor ular berbisa keluar dari liangnya dan mematuknya, pada saat itu juga ia meninggal dunia.

Patacara menantikan kedatangan suaminya dengan penuh rasa cemas, takut dan kesakitan, pada saat meluas dan airnya setinggi pinggang. Patacara yang masih lemah amat kebingungan, ia tidak mampu menyeberangi sungai dengan kedua anaknya. Lalu ia meninggalkan anak tertuanya di satu sisi sungai yang airnya mengalir dengan amat deras, dan ia menyeberang dengan menggendong bayinya. Sesampainya diseberang sungai, Patacara membaringkan bayinya yang dibalut dengan kain penutut kepalanya diatas ranting-ranting itu.

Kemudian Patacara menyeberangi kembali untuk menjemput anak tertuanya. Ketika ia berada ditengah sungai, seekor elang besar menyambar bayinya, bagaikan sepotong daging. Melihat kejadian itu Patacara berteriak teriak untuk mengusir burung elang itu, namun usahanya sia-sia, burung elang itu tidak mempedulikannya tetap membawa bayinya terbang tinggi. Anak tertuanya yang mengira ibunya memanggil, berjalan menyeberangi sungai untuk pergi ke tempat ibunya berada. Karena arus sungai yang amat deras, anak itu hanyut terbawa arus sungai.

Dalam sekejap Patacara kehilangan kedua anaknya dan juga kehilangan suaminya. Patacara lalu menangis dan meratap keras seperti orang gila, “...Hu..hu... bayiku disambar elang, anak tertuaku hanyut, suamiku mati dipatuk ular berbisa....!”

Dengan perasaan sedih dan duka yang mendalam Patacara berusaha pulang ke Savatthi menuju rumah orangtuanya. Sesampainya di Savathi, Patacara menjumpai seorang laki-laki di tengah jalan, dan menanyakan tentang keadaan orangtuanya.

“Saudari, tadi malam rumah saudagar kaya itu roboh dan menimpa mereka. Rumahnya terbakar, saudagar kaya, istri dan anak laki-lakinya, mereka semua terbakar dalam satu tumpukan. Saudari, lihatlah kemari...! Asapnya dapat terlihat dari sini”, ucap lelaki itu sambil tangannya menunjuk pada kepulan asap.

Mendengar berita yang demikian tragis Patacara tidak kuat lagi menerima kenyataan yang menyedihkan, ia menjadi gila, ia merobek-robek pakaiannya dan hampir tidak berpakaian Patacara berlari-lari, beteriak-teriak, meratap-ratap di sepanjang jalan. Orang-orang yang melihatnya mengusir, “Pergi... pergilah.... wanita gila......”

Sang Buddha yang sedang membabarkan Dhamam di vihara Jetavana, melihat Patacara sedang berteriak teriak di depan vihara. Seorang murid Sang Buddha berusaha mencegahnya masuk dan berkata kepada orang-orang.

Sang Buddha berkata, “Patacara, jangan takut, kamu telah datang kepadaKu yang dapat melindungmu dan membimbingmu. Sepanjang proses lingkaran kehidupan ini (samsara), jumlah air mata yang telah kamu cucurkan atas kematian kedua anakmu, suami, orangtua, dan saudara laki-lakimu sudah sangat banyak, lebih banyak dari air yang ada di tempat samudera.”

Kemudian Sang Buddha menjelaskan dengan rinci “Anamatagga Sutta” yang menjelaskan perihak kehidupan yang tak terhitung banyaknya. Berangsur-angsur Patacara merasa tenang dan damai. Sang Buddha menambahkan bahwa ia seharusnya tidak berpikir keras tentang sesuatu yang telah pergi, tetapi seharusnya berjuang keras menyucikan diri untukmencapai Nibbana. Mendengar nasehat Sang Buddha, Patacara mencapai Tingkat Kesucian Sotapatti, Kemudian Patacara menjadi Bhikkhuni.

Pada suatu hari, Patacara sedang membersihkan kakinya dengan air dari tempayan. Pada saat ia menuangkan air untuk pertama kalinya, air tersebut hanya mengalir pada jarak yang pendek kemudian meresap. Lalu ia menuangkan untuk kedua kalinya, air tersebut mengalir sedikit lebih jauh, tetapi air yang dituangkan untuk ketiga kalinya mengalir paling jauh. Dengan melihat aliran dan menghilangnya air yang dituangkan sebanyak tiga kali, Patacara mengerti dengan jelas tiga tahapan di dalam kehidupan makhluk hidup.

Sang Buddha melihat Patacara melalui kemampuan batinNya dari Vihara Jetavana, mengirimkan seberkas sinar danmenampakkan diri sebagai seorang manusia. Sang Buddha kemudian berkata kepadanya, “Patacara kamu sekarang pada jalan yang benar, kamu telah tahu padangan yang benar tentang kelompok kehidupan (Khanda). Seseorang yang tidak mengerti karakterisitk ketidak-kekalan, ketidakpuasan, tanpa inti dari khanda adalah tidak bermanfaat, walaupun ia hidup selama seratus tahun.”

 

 

Hits: 90