Category: Mengenal Siswa Sang Buddha Published: Monday, 18 December 2017

Y.M. Bhikkhu K. Sri. Dhammananda Nakaya Mahathera
Bapak Agama Buddha Di Malaysia & Singapore

 

Yang Mulia Bhikkhu K. Sri Dhammananda merupakan Bhikkhu yang mempunyai reputasi international. Beliau adalah pendiri dan penasehat spiritual Buddhist Missionaries Society yang bertempat di Buddhist Vihara Brikfields – Kuala Lumpur, Pamaradhamma Buddhist Institut di Srilanka dan Singapore Buddhist Mission di Singapore. Beliau mendapat kehormatan dengan dianugerahinya gelar kehormatan “Dharmakirthi Sri Saddhamma Visarada” oleh Siam Maha Nikaya Srilanka, gelar kehormatan “Pariyati Visara” oleh Kotte Maha Sangha Sabha Srilanka, gelar kehormatan “Saddhamma Vibhusana” oleh Vidyalankara Pirivena Srilanka, gelar kehormatan “Sastriya” oleh Benares Hindu University India, gelar kehormatan "“ripitaka Vagiswara Charya, Mahopadhaya” oleh Rohana Sangha Sabha Srilanka dan gelar kehormatan “Visuadharma Visarada Sasadhaja” oleh Ramanna Maha Nikaya Srilanka. Beliau juga dikenal sebagai penulis buku-buku Dharma yang bermutu, seperti What Buddhists Believe, How to live without fear4 and worry, Do you believe in Rebirth, Great Personalities o Buddhism, Why Buddhism, Is it wrong to be ambitious, You are responsible, How to overcome your difficulties, Great virtue of Buddha, Budhism in the eyes of intellectuals, Whither mankind, A happy married life, handbook of Buddhists, Meditation the only way, Treasure of the Dhamma, Human Life and Problems dan buku baru berjudul Food of Thinking Mind. Total buku yang sudah ditulisnya adalah lebih dari 50 buku., Beberapa bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Taiwan, India, Spanyol, Srilanka, Kamboja, Korea, Afrika Selatan dan Amerika. Beliau juga menerbitkan maalah “Voice of Buddhism” dan sangat aktif dalam penyebaran agama Buddha di Malaysia dan beberapa negara bagian didunia. Dilahirkan dari keluarga yang memiliki tradisi agama Buddha pada tanggal 18 Maret 1919 di desa Kirinde, selatan Srilanka. Sebagai anak tertua dari enak bersaudara, beliau sejak berusia tujuh tahun sudah aktif di berbagai kegiatan keagamaan. Beliau memiliki paman yang juga pemimpin bhikkhu dari sebuah vihara di Kirinde. Saat itu keinginan untuk menjadi bhikkhu mulai memasuki hati sanubarinya.

Ketika berumur 12 tahun, beliau sudah memasuki kehidupan keagamaan sebagai seorang samanera. Keinginan tersebut adalah berkatdorongan ibunya yang yakin bahwa apabila ada salah satu anggota keluarga yang menjadi anggota Sangha maka akan membawa manfaat yang besar bagi orang tua dan keluarga. Beliau ditabhiskan oleh Ven K. Dhammaratana Mahathera dari Vihara Kirinda dengan nama “Dhammananda” yang berarti “seorang yang memperoleh kebahagiaan melalui Dhamma:. Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1940 ia ditabhiskan menjadi bhikkhu oleh Ven. K. Ratanapala Mahathera dari Vihara Kotawila.

Pada tahun 1935-1938, beliau mulai mempelajari Dhamma secara mendalam di Vidyalankara Pirivena, Institut agama Buddha yang terkenal di Srilanka. Gurunya adalah Ven. Kotawila Deepannanda nayaka Thera. Selanjutnya ia mempelajari sansekerta, pali, dan filosofi Buddhis selama tujuh tahun di perguruan bergengsi yaitu Vidyaankara Pirivena di Peloyagoda, Kelaniya. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Benares di India. Beliau mempelajari sansekerta, hindu dan filosofi di India. Pada tahun 1949, beliau berhasil meraih gelar Master dalam bidang filosofi India. Tercatat salah seorang profesornya adalah Dr. S. Radhakrishnam, presiden pertama negara India.

Setelah menamatkan pendidikannya, beliau kembali ke Srilanka untuk mendirikan insitut buddhis “Sudharma” guna memmenuhi kebutuhan akan pendidikan, sosial dan spiritual penduduk sekitarnya. Beliau lalu menerbitkan secara berkala jurnal Buddhis dalam bahasa Singhalese.

Pada tahun 1952, Ven K. Sri Pannasara Nayaka Thera, pemimpin Vidyalanakara Pirivena menerima sebuah surat dari perkumpulan Sasana Abhiwurdhi Wardhana, Malaysia. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa dibutuhkan seorang Bhikkhu yang bisa menetap di Vihara Brickfileds Malaysia. Dari 400 Bhikkhu yang ada di Vidyalankara Pirivena, yang terpilih adalah Beliau. Dan pada tanggal 02 Januari 1952, untuk pertama kalinya beliau mendarat di Penang. Beliau menetap di Vihara Mahindarama Buddhist. Pemimpin vihara tersebut adalah Ven. K. Gunaratana Maha nayaka Thera, seorang bhikkhu Singhalese yang sangat terkenal akan kepandaiannya dalam membabarkan Buddha Dharma. Setelah berdiam beberapa hari, beliau berangkat menuju Kuala Lumpur dan menetap di Vihara Brickfields Buddhist sampai sekarang. (sekarang bernama Buddhist Maha Vihara)

Sebagai hasil dari usaha pembabaran Dhamma beliau, banyak orang yang akhirnya sadar dan memahami ajaran yang benar dari agama Buddha. Untuk lebih mendukung usaha pembabaran Dhamma, pada tahun 1961beliau mengadakan diskusi dengan pemimpin-pemimin Buddhis awam tentang perlunya sebuah organisasi. Dan pada tahun 1962 beridirilah Buddhist Missionary Society (BMS) yang bertujuan untuk :

  • Mempelajari dan mempromosikan ajaran Agama Buddha.

  • Mengembangkan kualitas kejujuran, cinta kasih dan mengembangkan keharmonisan agama dan pengertian dalam mempraktekkan agama Buddha.

  • Menerbitkan bacaan Buddhis.

  • Menyediakan petunjuk-petunjuk dalam mempraktekkan ajaran Buddha Dhamma.

  • Memberikan perhatian, nasehat dan pelayanan di bidang spiritual, sakit dan kematian.

Beliau yakin bahwa salah satu cara yang paling efektif dalam mengembangkan ajaran Sang Buddha adalah menerbitkan buku-buku. Apalagi jumlah bhikkhu dan penceramah awam sangat terbatas, maka jalan keluar yang terbaik adalah melalui buku. Mulailab beliau menulis artikel -artikel dan bulku-buku.

Selain mengajar di berbagai Universitas di Malaysia, pada tahun 1970 – 1975, Beliau diundang mengajar di universitas di luar negeri seperti Universitas Lancaster, Unviersitas Hull, Universitas Manchester, Universitas Oxford, Universitas Buddhis Dharma Realm dan Universitas Oriental Studies Di USA.

Atas jasa-jasa dan pengabdiannya yang luar biasa di bidang pendidikan, beliau dianugerahkan DOCTOR HONORIS CAUSA oleh Universias Buddhis Dharma Realm, Universitas Oriental Studies (1975), Universitas Nalada (1976) dan Universitas Benares Hindu (1980) dan Almamaternya, Universitas Srilanka (1991)

Selain penghargaan dari kalangan akademik, Beliau juga mendapat penghargaan dari pemerintah Malaysia. Pada tanggal 07 Juni 1991 Beliau dianugerahkan oleh Yang Maha Mulia Sri Paduka Baginda, Yang Dipertuan Agong IX Sultan Aslan Muhibuddhin Shah Ibni Almarhum Yussuf Izzudin Ghafarullahulahu Saha sebagai “JOHAN SETIA MAHKOTA”.

Hubungannya tidak hanya terbatas pada sekte Theravada saja. Beliau juga menjalin hubungan yang baik dengan sekte Mahayana dan Vajrayana. Pernah suatu ketika Ven. Grand Master Hsian Hua dari Amerika Serikat dan Ven Grand Master Hsing Yun dari Vihara Fo Kuang Sang Buddha. Taiwan mengundangnya untuk berdiskusi. Bahkan ketika utusan bhikkhu dan bhikkhuni dari Grand Master Hsian Hua berkunjung ke tempatnya, mereka diundang berceramah dharma. Yang Mulia Dalai Lama juga pernah berkunjung ke Viharanya ketika berkunjung ke Malaysia pada tahun 1979. Beliau selalu berpendapat bahwa Sang Buddha hanya mengajar Dharma. Sang Buddha tidak mengajarkan Theravada, Mahayana dan Vajrayana.

Beliau mengabdikan hidupnya dengan mengajar Dharma tanpa bersikap membeda-bedakan sekte maupun ras. Karenanya banyak dukungan simpatisan mengalir kepadanya. Beliau dipuji sebagai seorang manusia besar yang memiliki ciri-ciri antara lain: penuh kasih sayang, tanggung-jawab, berbudaya, seorang penasehat, pendengar yang sebar, ahli dalam berceramah dan tekun dalam berusaha.

Dengan usaha dan tekad yang keras untuk mengabdi pada Buddha Dharma, Beliau menghasilkan banyak kemajuan bagi perkembangan agama Buddha di setiap negara yang dikunjunginya. Beliau merasa bahagia melihat umat Buddha di seluruh dunia menyadari sebuah kenyataan bahwa dengan upacara dan ritual-ritual saja tidak cukup untuk mempraktekkan agama Buddha. Beliau berpendapat bahwa kita harus belajar, memahami dan menghayati ajaran Sang Buddha dan membabarkannya ke segala penjuru dunia agar dunia dapat diliputi ketenangan dan kedamaian.

Beliau dijunjung tinggi, disegani, dan diakui oleh banyak orang sebagai seorang Bhikkhu yang terpelajar dan sangat aktif dalam penyebaran Buddha Dharma melalui pendidikan. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh yang mampu menyampaikan Dharma di kalangan intelektual.

 

Berikut ini hasil tanya jawab dengan beliau, saat kunjungannya ke Indonesia bulan April 1994 yang lalu.

(T) Aktivis sehari-hari Bhante?
(J) Menulis buku Dharma, memberikan khotbah Dharma, mengontrol vihara, mengajar, memberikan pelayanan konsultasi, aktivitas sosial seperti: berkunjung ke panti sosial, donor darah. Juga setiap minggu mengadakan meeting antar agama Buddha, Kristen, Hindu dan Sikh. Meeting tersebut bertujuan untuk menjaga keharmonisan kehidupan umat angar agama serta memberikan masukan bagi pemerintah Malaysia mengenai masalah keagamaan.

(T) Bhante dikenal sebagai penulis beberapa buku yang terkenap seperti: “You are responsible”, “Buddhism in the eyes of intelectual”, dll. Bagaimana Bhante mendapatkan ide menulis buku tersebut?
(J) Ide menulis buku diperoleh dari umat-umat yang datang berkonsultasi. Misalnya: Problem rumah tangga. Dari problem-problem tersebut, saya memikirkan cara pemecahan dan menuangkannya ke dalam tulisan.

(T) Judul buku yang paling berkesan? Mengapa? Mohon Bhante dapat menjelaskan sedikit tentang isi buku tersebut.
(J) Yang paling berkesan adalah buku berjudul “What Buddhist Believe” dan “How to live without fear dan worry”. Kedua buku tersebut telah diterjemahkan ke 15 bahasa. Buku itu menjelaskan bagaimana seharusnya umat Buddha menghadapi kehidupan ini.

(T) Kalau pengalaman berkesan selama menulis buku?
(J) Saat menulis buku “Happy Mariied Life”. Banyak orang menanyakan bagimana bhikkhu dapat menulis buku tersebut. Sedangkan bhikkhu belum pernah menikah. Saya menjawab bahwa hanya orang yang tidak married lah yang bisa menulis buku tersebut karena kalau seseorang sudah menikah, akan berada pada situasi benci hidup perkawinan atau sebaliknya menikmati perkawinan. Jadi saya tidak termasuk kedua golongan itu.

(T) Apakah Bhante menyediakan waktu konsultasi?
(J) Tidak ada jadbwal husus. Pintu terbuka 24 jam.

(T) Problem yang paling sering dikonsultasi?
(J) Problem rumah tangga. Misalnya Dua orang (suami-istri) yang terjadi konflik karena suatu problem. Memang tidak gampang untuk mengubah sifat orang. Yang penting masing-masing menyadari dan memahami perbedaan yang dimiliki. Kalau kita tidka bisa mengubah orang lain maka ubahlah pikiran kita.

(T) Menurut Bhante, bagaimana caranya supaya kita tidak mudah tersinggung?
(J) Dengan menyadari bahayannya dari kemarahan, kenapa kita tidak menenangkan diri. Ketika pikiran menjadi tenang, kita dapat melihat segala sesuatu sangat jelas. Jangan menyimpan kemarahan di pikiran, itu akan menganggu kesehatan.

(T) Kalau pengertian keangkuhan menurut Bhante?
(J) Ada tiga jenis keangkuhan :
1. Merasa diri kita lebih tinggi, lebih hebat dari orang lain (Feeling we are higher than others).
2. Merasa diri kita sama hebatnya dengan orang lain. Jadi kenapa kita harus mengikuti nasehat orang tersebut. (Why should we follow the other-equel).
3. Merasa kita lebih rendah dari orang lain. Jadi kita tidak pantas bergaul dan berhubungan dengan orang tersebut. (Feel we are very low).

 

Pembaca yang budiman, pertemuan kedua kalinya dengan beliau terjadi ketika bersama Bapak Cau Ming, tanggal 01 April 1997 yang lalu di Buddhist Maha Vihara, 123 Jalan Berhala di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam pertemuan tersebut, beliau bersedia untuk diwawancarai. Hasil wawancara dituangkan dibawah ini.

(T) Apa judul buku terbaru Bhante?
(J) Buku saya yang terbaru berjudul: Human Life and Problem, diterbitkan bulan Maret 1997 ini. Isi buku tersebut mengenai tugas-tugas, kewajiban serta problem-problem manusia dalam kehidupan di dunia ini.

(T) Kejadian yang paling membahagiakan Bhante?
(J) Apabila saya mendapat berita bahwa setelah membaca buku saya dapat mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik, dapt membebaskan mereka dari masalah dan kekhawatiran. Banyak orang menulis surat kepada saya. Menurut mereka, setelah membaca buku saya, mereka menyadari apa arti kehidupan ini sebenarnya. Bahkan ada beberapa orang yang sebelumnya bermaksud bunuh diri namun tidak jadi. Saya juga pernah menerima surat dari sepasang suami istri yang menceritakan bahwa mereka telah rujuk kembali dari perceraian mereka. Kejadian seperti itulah yang paling membuat saya bahagia.

(T) Bagaimana pandangan Bhante mengenai perkembangan minat masyarakat Barat dan Timur terhadap agama Buddha?
(J) Saya memperhatikan kalangan masyarakat yang berpendidikan di Barat lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifat pengertian dan intelektual. Sedangkan masyarakat timur lebih tertarik pada ritual upacara. Masyarakat timur menggunakan ritual upacara ini untuk kepentingan emosi mereka, bukan untuk kepentingan intelektual.

(T) Pandangan Bhante mengenai sejauh mana peranan agama Buddha dalam kehidupan manusia?
(J) Segala sesuatu akan mengalami perubahan. Sebagai contoh: Sang Buddha pernah bersabda bahwa manusia secara fisik maupun metal mengalami perubahan. Sewaktu zaman Sang Buddha, usia rata-rata manusia mencapai 120 tahun. Pada zaman sekarang, hasil penelitian organisasi kesehatan sedunia (WHO) mengemukakan usia hidup manusia hanya mencapai 60 tahun. Dari segi mental, kita dapat menyaksikan semakin banyaknya praktek korupsi, mementingkan diri sendiri, tindakan tidak bermoral dan kejam. Malapetaka atau bencana alam lebih sering terjadi. Siapakah yang bertanggung jawab? Semua ini karena ulah pikiran manusia. Lalu dimana peranan agama? Adakah tugas kita untuk mengembangkan nilai-nilai spiritual dalam batin kita. Banyak tempat-tempat ibadah hanya memperhatikan penampilan di luar saja. Walaupun tempat-tempat ibadah keliahatan penuh sesak dengan umat, namun sebarapa banyak umat yang benar-benar melatih dirinya menjadi baik, menambah kebajikan, kejujuran, simpati, memiliki kesederhanaan, bijaksana serta kedamaian dalam batin. Itulah yang paling penting apabila kita mau menghayati agama kita sehingga kita memiliki “religious minded” bukanlagi menggunakan agam sekadar “show of” (pamer).

(T) Nasehat Bhante untuk umat Buddha di Indonesia?
(J) Kita harus melatih pikiran kita dalam menghadapi perubahan-perubahan serta siap mengatasi kesulitan dalam hidup ini. Milikilah nilai-nilai agama dalam batin kita serta menghayati nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Hits: 170