Category: Mengenal Siswa Sang Buddha Published: Wednesday, 20 December 2017

Y.M. Bhiksu Dharmasagaro Mahasthavira
Ketua Umum Sangha Mahayana Indonesia

 

Pada masa kanak-kanaknya puluhan tahun yang silam, beliau tidak pernah membayangkan jika suatu saat nanti menjadi seorang pemimpin agama Buddha sebagai Ketua Sangha Mahayana Indonesia. Keinginannya pada waktu itu hanya bermaksud menyebarluaskan dan mengajarkan bagaimana Agama Buddha diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Y.M Bhiksu Dharmasagaro Mahasthavira yang telah 20 tahun lebih mengabdi untuk agama Buddha, dilahirkan di sungai Liat Bangka, pada tanggal 20 Pebruaru 1945. Dalam keluarganya ia merupakan anak ke 4 dari 10 bersaudara.

Beliau mengawali pengabdiannya semenjak di SMA kelas II dengan belajar Buddha Dhamma di bawah bimbingan Bhiksu Jinaputta, seorang tokoh agama Buddha yang juga pesilat. Sejak itu timbul niat untuk menjdai seorang Bhiksu dan bertambah kuat niatnya setelah bertemu dengan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dari Pacet.

Keinginan beliau tentu saja sesuai dengan kenyataan. Ternyata keinginan luhurnya ditentang oleh orng tua. Namun beliau menghadapi kenyataan dengan sikap berdiam diri (tidak membantah maupun melawan). Beliau yakin bahwa orang tuannya pasti akan berubah pikiran.

Akhirnya pada tahun 1972 dalam usia 27 tahun, beliau ditabhiskan menjadi Bhiksu dengan tradisi Mahayana di Vihara Polen Tsi Tai Ih San, Hongkong.

Pada tahun itu juga beliau kembali ke Indonesia dan mulai berjuang merealisasikn cita-citanya antara lain :

  1. Mengembangkan upaya pemantapan umat yang terbagi dalam 2 kelompok :

    1. Umat yang mencari perlindungan dalam beragama.

    2. Umat yang difokuskan bergerak dalam organisasi.

  2. Menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam setiap upacara agama aatu kebaktian karena beliau berpendapat bahwa kita mempunyai satu bangsa dan satu bahasa, jadi tidak baik jika mengembangkan agama Buddha di Indonesian dengan menggunakan bahasa Mandarin ataupun bahasa asing lainnya. Selain itu agar umat dari agama lainpun dapat mengerti apa yang diajarkan sang Buddha sehingga tidak menimbulkan kesalah-pahaman. Akhirnya pada tahun 1980 hampir seluruh vihara Mahayana di Indonesia mengikuti dan melaksanakan ide beliau.

  3. Melakukan kegiatan sosialdalam hubungannya dengan keagamaan misalnya: pengobatan massal, melestarikan lingkungan alam dengan melepaskan binatang, memberikan amal pada fakir miskin dengan membagikan beras.

  4. Dalam bidang pendidkan, beliau memberikan dorongan dan merestui Bhiksu Dutavira mendirikan Pusat Pendidikan Dan Latihan (PUSDIKLAT) Agama Buddha Mahayana Indonesia yang terletak di jalan Mangga Besar 58 Jakarta Barat dengan tugas :

    1. Menterjemahkan Kitab Suci dari Bahasa Asing ke Bahasa Indonesia.

    2. Mendidik Dharma Duta Agama Buddha.

    3. Membentuk Lembaga Kesenian Suara Mahayana.

Demikin sekelumit tentang Beliau yang kami cuplik dari buku Otobiografi Dwi Dasa Warsa Y.A. Bhiksu Dharmasagaro Mahastahvira.

 

Selanjutnya hasil tanya jawab secara tertulis dengan beliau dilakukan pada tanggal 17 Okotber 1993 :

(T) Apakah arti nama Dharmasagaro?
(J) Dharma Sagaro berarti Lautan Dharma.

(T) Pengalaman-pengalaman apa saja yang mendorong Sefu untuk menjadi anggota Sangha?
(J) Pengalaman yang saya dapat sehingga tertarik menjadi anggota Sangha yaitu ketika saya selesai menjalani Pabajja di bawah asuhan Bhane Ashin Jinarakkhita. Tidak lama ayah saya meninggal dunia, kejadian itulah yang lebih membuka mata dan pandangan saya tentang ajaran dari guru junjungan kita Sakyamuni Buddha, mengenai kehidupan manusia yang tidak luput dari Dukkha, yaitu lahir, tua, sakit, mati. Semua itu dialami oleh setiap manusia. Agar dapat terbebas dari Dukkha, maka kita harus mempelajari Dharma dari Sang Buddha. Oleh sebab itu saya tertarik menjadi anggota sangha.

(T) Selain oarng tua, siapakah yang sefu anggap sangat berarti di dalam kehidupan Sefu dan mengapa?
(J) Sakyamuni Buddha adalah guru junjunagn kiat semua, karena dari Sang Buddhalah kita dapat mempelajari Dhamma.

(T) Faktor-faktor apakah yang menjadi pendorong semangat pengabdian Sefu?
(J) Membantu umat agar mengenal ajaran Dharma yang diajarkan oleh Sang Buddha, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

(T) Motto/semboyan Sefu dalam pengabdian?
(J) Dalam melakukan perbuatan baik jangan disertai pamrih karena segala perbuatan baik kita pasti akan membawa akibat. Tergantung benih apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik.

(T) Apakah masih ada keinginan atau ide Sefu di masa depan?
(J) Dalam mengembangkan ajaran agama Buddha, kita harus dapat atau harus banyak memberikan penerangan-penerangan mengenai Dharma kepada para umat. Untuk itulah kita sangat membutuhkan guru-guru agama untuk menunjang perkembangan agama Buddha di persada Nusantara ini.

(T) Pengalaman-pengalaman apa saja yan paling berkesan dialami Sefu setelah menjadi anggota Sangha?
(J) Pengalaman yang dilewati semuanya berkesan dan tidak ada yang khusus.

(T) Siapakah tokoh Buddhis yang Sefu paling kagumi?
(J) Banyak, tidak dapat disebutkan satu persatu. Semua tokoh Buddhis saya kagumi.

(T) Di dalam buku Otobiografi Dwi Dasa Warsa Suhu (hal 26) Sefu pernah mengatakan bahwa "Janganlah melihat seseorang dari keburukannya saja, tetapi juga kebaikannya" mohon penjelasan suhu?
(J) Jika kita kgai lebih dalam apakah yang dinamakan sebagai keburukan dan apakah yang dinamakan sebagai kebaikan? Perbedaannya hanya dari manakah kita memandang dan pada siapa kita berbuat. Misalnya, pada salah satu buku bacaan tentang kelahiran Sakyamuni Buddha, Beliau pernah berjalan ke suatu hutan dan melihat seekor rusa yang terpanah berlari melintas di hadapan Beliau, dan tidak lama kemudian datanglah si pemburu lalu bertanya kepada Beliau, kemana arah larinya rusa yang terkena panah tersebut dan Beliau menunjuk ke arah yang berlawanan dari larinya rusa. Bila dilihat dari segi si Pemburu, dia akan mengatakan Beliau menipunya, tetapi jika melihat dari segi si rusa, ia akan berterima kasih atas kebaikan Beliau yagn telah menolong jiwanya.

(T) Kemudian Y.M Bhiksu Andhanavira (hal 26 buku yang sama) menyebutkan bahwa dalam membina umat, Sefu tidak banyak mengkritik atau berkata kasar pada umat. Mengapa Sefu tidak suka melakukan pendekatan seperti itu? Lalu pendekatan yang bagaimanakah yang biasa sefu lakukan?
(J) Saya tidak suka mengkritik dan berkata kasar terhadap orang. Jika memang ada orang berbuat salah, saya akan menunggu dan mencari kesempatan untuk menasehatinya.

(T) Pendapat Sefu terhadap mereka yang suka mengkritik atau berkata kasar terhadap orang lain dan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap mereka (yang suka mengkritik, mengeluh atau berkata kasar terhadap orang lain)?
(J) Karena mereka tidak mengerti situasi dan kondisi, maka kita lebih baik diam saja.

(T) Mohon masukan judul beberapa buku Agama Buddha yang dianggap Sefu baik.
(J) Semua buku ajaran agama Buddha baik, tergantung bagaimana pencerapan dari pembacanya.

(T) Aktivitas Sefu dalam mengisi waktu luang?
(J) Saya hampir tidak mempunyai waktu luang, jikalau ada hanya untuk baca buku saja.

(T) Himbauan Sefu untuk Umat Buddhis di Indonesia?
(J) Saya menghimbau agar Umat Buddhis banyak mengikuti ceramah agama Buddha di semua Vihara, agar wawasa kita lebih terbuka dan menjadi bijaskana, karena umat juga mempunyai tanggung-jawab terhadap perkembangan agama Buddha.

 

 

Hits: 282