Category: Mengenal Siswa Sang Buddha Published: Wednesday, 20 December 2017

Y.M. Bhiksuni Chen Yen Mahasthavira
Pendiri Perkumpulan Tzu Chi, Penggerak Kegiatan Kemanusiaan

 

Semangat utamanya ketika memutuskan menjadi Bhiksuni adalah bertekad membawa semangat Bodhisattva Avalokitesvara untuk menolong umat manusia dari penderitaan dengan prinsip "Satu tangan bekerja sebanyak seribu tangan, satu mata melihat sebanyak seribu mata."

Sungguh amat mulia langkah yang dia tempuh. Sikap mulia itu ternyata sangat dipengaruhi oleh gurunya, Maha Bhiksu Yin Shun (Maha Bhiksu Yin Shun merupakan seorang Bhiksu yang berwibawa, sangat terpelajar, rendah hati dan figur yagn sangat pantas dijadikan teladan). Saat itu dalam kesempatan yang amat langka, ia bertemu dan berhasil diterima sebagai murid. Oleh gurunya, ia dipesan untuk mau berbuat demi kebahagiaan umat manusia dan umat Buddha.

Selama tiga puluh satu tahun memimpin Tzu-Chi Foundation, sudah banyak karya kemanusiaan yang dilakukannya. Hasilnya pun terbukti sangat membanggakan. Pernah menerima berbagai penghargaan sosial dari negaranya serta penghargaan Ramon Magsaysay yang dianggap sebagai hadiah Nobel Perdamaian?ditahun 1991. Bahkan Presiden Taiwan, Lee Teng Hui pernah mengatakan; Master Chen Yen telah mengukir bagian yang paling menyentuh dalam sejarah taiwan? Siapakah sebenarnya Master Chen Yen yang memiliki kharisma luar biasa, yang hidupnya hanya mengabdi kepada umat manusia dan dijuluki sebagai ibu Teresanya umat Buddhis ini?

Nama aslinya adalah Wang Chin Yun. Lahir pada tanggal 14 Mei 1937, di pinggiran kota Fung-Yen, kabupaten Tai-Chung, Taiwan. Ia diadopsi oleh pamannya ketika masih kecil dan dalam usianya yang masih 15 tahun, ia sudah vegetarian. Dua tahun kemudian, ia harus menerima kenyataan pahit yaitu ayah angkat yang sangat disayanginya meninggal dunia secara tiba-tiba dan tanpa pesan sesuatu apapun. Kenyataan ini terasa berat baginya. Itulah pengalaman yang membuat hatinya sedih teramat dalam. Tiap hari ia selalu merenung sambil bertanya pada diri sendiri: Manusia itu datangya dari mana? Kalau meninggal pergi kemana? Apa tujuan manusia itu lahir? Pertanyaan-pertanyaan ini ternyata mengandung makna yang dalam. Dalam keadaan sedih tidak tahu harus berbuat apa dan bingung, ia teringat kata-kata di sebuah buku Dharma, pemberian Maha Bhiksu Miau Kuang yaitu: setiap manusia yang hidup pasti mati.

Setelah berhari-hari berada dalam keadaan tidak menyenangkan , ia memutuskan ke Vihara Chen-Yin di Taiwan untuk pelimpahan jasa bagi ayah angkatnya. Ketika itulah ia menyadari bahwa apapun yang dimiliki, tidak bisa dibawa serta, hanya perbuatanlah yang akan mengikuti kita.

Begitu pulang dari Vihara Chen-Yin, ia mulai serius memperdalami agama Buddha. Sempat terpikir untuk menjadi Bhiksuni. Namun timbul keragu-raguan dalam hatinya karena teringat keadaan ibu dan saudara-saudaranya.

Suatu hari ia kembali mendatangi Vihara Chen-Yin dan mengajurkan sebuah pertanyaan ke Bhiksu yang tinggal di Vihara tersebut. Wanita yang bagaimanakah yang paling bahagia? Demikian pertanyaan yang ia ajukan. Daan ia memperoleh jawaban yang berkesan yaitu dikemukakan bahwa wanita yang membawa keranjang itulah yang paling bahagia. Apabila seorang wanita tidak bisa mengurus rumah tangga maka tidak akan dapat ditemukan kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Puaskah ia mendengar jawaban itu? Ternyata tidak. Ia berpikir: Setiap hari ia membawa keranjang, mengapa tidak bahagia? Lalu arti keranjang itu apa? Ia terus mencari jawaban. Akhirnya ia menemukan maknanya yaitu apabila kita ingin memperoleh kebahagiaan maka harus membuat orang lain bahagia pula.

Hari itu tepat 100 hari ayah angkatnya meninggal. Ia mengunjungi ke suatu tempat di kota kecil bernama Cin Siu Yen. Disana ia menghabiskan waktu dengan merenungi semua kejadian yang menimpa ayah angkatnya. Karena berhari-hari tidak pulang, ibunya mencari dan berhasil membujuknya pulang.

Tetapi beberapa hari kemudian, tanpa pamit ia kembali ke Vihara Ching Chie disebelah barat Taiwan. Kali ini ia bertekad tidak akan menuruti keingina ibunya apabila dibujuk pulang. Ketika berhasil ditemui ibunya, ia berkata: Walaupun ibu dapat membawa badan saya pulang, tetapi pikiran dan semangat saya tidak bisa ikut ibu? katanya. Melihat kemauan kerasnya, akhirnya ibunya pun mengalah. Sejak itu ia sudah tidak diganggu lagi untuk mewujudkan keingannya. Ia pernah berjanji bahwa setiap kali ibunya ulang tahun ia pasti akan datang menjenguk.

Semangatnya untuk mencari Dharma Sang Buddha akhirnya membawa titik terang yang bersejarah. Saat itu, ia pergi ke Hua-Lien. Oleh seorang upasika, ia dibawa ke sebuah vihara bernama Phu Ming yang baru akan diresmikan. Bgitu melihat vihara itu, ia terkesima, Ini dia, bangunan vihara yang mirip dengan yang pernah dimimpinya pada waktu umur 15 tahun? pikirna. Merasa berjodoh dengan vihara ini, ia memohon izin upasika itu untuk membangun sebuah rumah tinggal. Tepat dibelakang vihara, dibangunlah sebuah rumah yang sangat sederhana berukuran 3m² x 3.6m². Di rumah itulah ia melatih dirinya.

Pada tahun 1963 bulan Februari, di kota Tia-Pei di Vihara Ling Ci, sedang dibuka pendaftaran latihan sila. Ia bermaksud ikut. Namun tidak mendapat izin karena ia tidak mempunyai guru pembimbing Dharma. Ia merasa sedih atas penolakan dirinya. Dalam keadaan itulah ia mengunjungi perpustakaan di Vihara Ling Ci bermaksud membeli sebuah buku Dharma karangan Maha Bhiksu Yin Shun. Dan siapa yang menyangka di perpustakaan itulah ia bertemu maha Bhiksu Yin Shun! Begitu melihat Maha Bhiksu Yin Shun yang juga sedang berjalan mendekatinya, ia langsung berkeinginan untuk diterima sebagai murid, Dan sepertinya segala sesuatu sudah diatur, dengan kemauan dan usaha kerasnya, ia berhasil diterima sebagai murid. Nasehat dari Maha Bhiksu Yin Shun yang diingat dan memberkas di hatinya sampai kini a dalah: “Kamu sudah meningglkan kehidupan duniawi, harus mau berbuat demi umat manusia dan agama Buddha? Oleh guirunya ia diberi nama Chen Yen. Saat itu ia berumur 26 tahun.

Karena sudah mendapat guru pembimbing Dharma, ia kembali ke tempat pendaftaran dan diizinkan mengikuti latihan sila, Selesai latihan ia kembali ke rumah untuk memperdalami sutra “Fa Hua Ching? Setiap bulan sekali, ia selalu melimpahkan jasa-jasa kepada semua makhluk. Tekatnya sudah bulat, ingin membawa semangat Bodhisatva Avalokitesvara untuk menolong manusia dari penderitaan. Di mana ada orang menderita, disitulah ia akan hadir untuk menolong.

Dua tahun kemudian, ia berjalan-jalan ke rumah sakit di kota kecil yang masih terbelakang untuk mengunjungi teman yang sakit. Di pintu masuk, ia terhenti karena terkejud melihat genangan darah di lantai. Apa yang terjadi disini??tanyanya kepada seorang disampinya. Seorang wanita desa yang keguguran dibawa keluarganya disini? jawab orang itu. Mereka tidak mempunyai uang muka sehingga wanita itu diminta pergi?

Apakah manusia sudah begitu kejam sehingga tega mengusir kaum sakit dari rumah sakit hanya karena tidak mempunyai uang??ia bertanya kepada dirinya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, tiga biarawati katolik mengunjunginya dengna maksud untuk membaptiskanya. Mereka menghabiskan waktu beberapa jam, bertukar pikiran tentang kehidupan dan keyakinan masing-masing. Ada satu hal yang tidak saya pahami dari para penganut agama Buddha? tukas salah seorang biarawati. Mengapa kaliah lebih berkonsentrasi pada pengembangan diri sendiri dan bukan berusaha membantu mereka yang kurang beruntung?

Ia tidak dapat berkata apa-apa, kejadian mengerikan di rumah sakit masih mengganggu pikirannya. Dia sudah tahu apa yang harus dikerjakan.

Dengan bantuan beberapa gadis desa yang telah kenal baik dengannya, ia menebang beberapa batang bambu dan membuatnya menjadi mangkuk. Ia memberikan mangkuk-mangkuk itu kepada 30 ibu rumah tangga yang biasa mengunjunginya. "Sebelum kalian pergi ke pasar setiap hari, ambillah 50 sen dari uang belanja kalian dan simpanlah ke dalam mangkuk untuk disumbangkan bagi kaum miskin? jelasnya.

Bukankah lebih mudah jika kita menyumbang 15 dollar setiap akhir bukan? tanya mereka. Tidak, jika kalian berdana sebulan sekali, kalian mengalami perbuatan baik berdana hanya sekali sebulan?

Pada ibu tersebut mulai menabung dan menggunakan uang itu untuk membeli makanan dan pakaian yang kemudian disumbangkan kepada keluarga miskin. Kaum tua yang hidup sebatang kara mereka dampingi dan rawat. Tempat tinggal dan makana diberikan kepada kaum tuna wisma.

Setelah kabar tentang perbuatan mereka tersebar, semakin banyak sukarelawan yang mengajukan diri untuk ikut serta. Sadar bahwa kelompok yang terogranisir baru dapat menangani pekerjaan sosial yang lebih baik, ia memelopori yayasan dana Buddhis Tzu-Chi ditahun 1996. Anda bukanlah sekedar mengumpulkan dana? ucapnya kepada mereka. Waktu, tenaga, dan kasih sayang kepada sesama, itulah yang amat dibutuhkan.

Pada suatu malam di tahun 1979, ia terkena serangan jantung dan tidak sadarkan diri. Setelah siuman, ia menyadari hampir saja meninggal dunia. “Jika saya meninggal, apa yang saya tinggalkan untuk menolong mereka yang menderita??pikirnya. Bergerut dengan kemiskinan di Hua-Lien selama 13 tahun membuatnya menyadari kebutuhan akan perawatan kesehatan. Saya akan mendirikan rumah sakit yang modern, yang tidak akan menolak siapapun? demikian keputusan yang diambilnya.

Selama lima tahun, ia dan pengikutnya bergerak di seluruh Taiwan mengumpulkan dana. Berita tentang seorang Bhikhuni yang merencanakan pendirian rumah sakit modern berperalatan lengkap menggugah perasaan rakyat Taiwan. Sebagai hasilnya, dana sebesar 700 juga dollar Taiwan terkumpul. Dan akhirnya pada tanggal 17 Agusuts 1986, seratus ranjang di rumah sakit Umum Buddhis Tzu-Chi siap melayani pasien.

Suatu hari, seorang gadis berusia 15 tahun mengalami kerusakan otak yang berat akibat kecelakaan mobil. Setibanya di rumah sakit, gadis itu berada dalam keadaan koma. Pasien dengan kecelakaan seperti itu tipis harapannya untuk diselamatkan jika rumah sakit Buddhis Tzu-Chi belum berdiri? ungkap Dr. Tsai Swei Chang. Selang sehari kemudian, kondisi gadis itu membaik. Berita pembedahan yang berhasil dan poulihnya kesehatan gadis itu menyebar di Hua-Lien. Mereka yang tidak tahu nama resmi rumah sakit tersebut memberitahu supir taksi, Tolong antarkan saya ke rumah sakit yang tahu cara membedah otak manusia.

Rumah sakit ini begitu dilimpahkan kasih sayang. Seolah-olah merupakan Vihara yang terbaik. Vihara yang menyembuhkan baik secara fisik maupun secara psikologis. Tertarik dengan filosofi rumah sakit itu, yang memperlakukan setiap orang sebagai keluarga, para dokter mulai berdatangan untuk bergabung di rumah sakit tersebut. Seorang dokter yang tidak berhasil menyembuhkan seorang pasien, dengan rendah hati meminta maaf dengan air mata berlianng di pipinya.

Dia membantu kaum miskin untuk memulihkan harga diri dan kaum kaya untuk memperbaiki hidup mereka dengan membantu kaum miskin? ujar Susan Wen, sukarelawan di Taipei. Kami menyumbangkan waktu, tenaga dan uang kami, dia memberi kami kesadaran? Baginya, senyum pasien yang sakit adalah hal yang teringah di dunia ini.

Meskipun prestasinya telah membawa dampak yang luar biasa pada kehidupan sesama, ia tidak mau terbenam dengan masa lalu. "Masa lalu adalah kenangan yang palsu? ungjkapnya. Kita harus hidup di masa kini. Masalah terbesar di dunia adalah kurangnya kasih sayang. Kami mencoba menciptakan masyarakat yang dipenuhi cinta kasih." katanya.

Pada kesempatan yang baik ini, saya akan menjelaskan lebih mendalam tentang arti Tsu-Chi . Seperti kita ketahui, empat misi utama Tzu-Chi adalah amal, pengobatan, pendidikan dan kebudayaan. Sedangkan kat Tzu-Chi merupakan: Tzu - Phei - Si - Se.

"Tzu" artinya: memberikan cinta kasih dengan tulus ikhlas tanpa penyesalan. Tzu-Chi telah berlansung lebih dari 30 tahun. Sejak masih kecil sampai sekarang, segenap pengurus, sukarelawan, serta para simpatisan Tzu-Chi selalu ikut terus berkarya. Saat ini terhadap lebih kurang lima juta umat Tzu-Chi tersebar di berbagai negara di dunia.

Kila selalu menganggap, jika orang kaya itu pasti bahagia. Kenyataannya belum tentu demikian. Satu contoh: dirumah sakit Tzu-Chi, terhadap pasien dari kalangan kaya tetapi mengeluh tidak bahagia. Mengapa? Karena orang kaya itu merasa sangat kesepian, tidak punya keturunan sehingga sedih kalau sudah meninggal, kekayaannya akan diwarisi kepada siapa?

Ada empat jenis manusia didunia ini :

  1. Orang kaya yang kehidupannya kaya.
    Misalnya: Orang kaya yang memiliki kebijaksanaan serta mau berbuat baik terhadap banyak orang.

  2. Orang kaya yang kehidupannya miskin.
    Misalnya: Pasien kaya yang merasa sedih.

  3. Orang miskin yang kehidupannya kaya.
    Misalnya: Para aktivis Tzu-Chi atau orang biasa yang memiliki kasih sayang dan senang menolong orang lain.

  4. Orang miskin yang kehidupannya miskin.
    Misalnya: Orang susah yang menerima bantuan.

"Phei" artinya tabah dalam mengalami kesusahan. Dalam melakukan apapun pasti ada celaan. Misalnya ketika kita membantu korban bencana alam di negara lain, kita dikritik, kenapa kalau membantu mesti terhadap negara lain. Saya menjawab: bukankah mereka yang menderita adalah juga umat manusia? Bukankah cinta kasih itu tidak membeda-bedakan suku, bangsa dan agama? Kita harus menghargai jiwa manusia. Jadi, apabila kita bermaksud berbuat sesuatu kebaikan, bertanyalah pada kita apakah kita akan menyusahkan orang lain?

"Si" artinya sikap saling menghargai, saling menghormati dan saling mengasih. Dengan sikap ini akan membuat kerjasama berjalan harmonis. Semua orang akan bekerja dengan gembira dan tidak ada rasa kekhawatiran.

"Se" artinya apabila kita memberi, jangan menuntut balasan. Misalnya: Kalau kita mendidik murid atau membantu orang susah harus dilakukan dengan sepenuh hati sehingga akan membuat hati kita senang.

Saya berharap kalian sewaktu kembali kenegara masing-masing akan dapat bersikap bagaikan butiran-butiran beras berkumpul menjadi satu karung, bagaikan tetesan-tetesan air berkumpul menjadi sungai. Dalam mengerjakan sesuatu, kita harus memiliki keyakinan bahwa: Apabila kita merasa apa yang akan kita kerjakan itu benar, dan kita kerjakan itu dengan cara yang benar maka kerjakan dan pasti akan berhasil.

 

Berikut petikan tanya-jawab dengan beliau :

(T) Harapan sefu terhadap perkembangan Tzu-Chi pada tahun 2000?
(J) Saya berharap di tahun 2000 dapat memberikan yang baik mengenai hasil kerja Tzu-Chi. Kita harus membuat umat menjadi baik serta memiliki cinta kasih agar kehidupan masyarakat menjadi damai. Walaupun itu suatu harapan, namun kita berusaha mewujudkannya sesuai dengan kemampuan yang ada.

(T) Bagaimana kita dapat menjadi Dharma Duta yang baik?
(J) Kita harus memiliki keyakinan, kesungguhan, kejujruan dan kebenaran.
Keyakinan artinya kita harus percaya diri sendiri dan terhadap orang lain.
Kita juga harus membuat diri kita dipercayai orang lain.
Kesungguhan artinya dalam melakukan tugas, harus sungguh-sungguh melakukannya.
Kejujuran artinya hati kita harus bersih.
Kebenaran artinya melakukan sesuatu sesuai dengan kebenaran.

(T) Selama ini tentu sefu banyak menemui kesulitan. Mohon sefu mengemukakan contoh kesulitan itu dan bagaimana cara menghadapi kesulitan itu?
(J) Kata kesulitan pasti akan kita hadapai dimana dan kapan saja. Namun asal ada keyakinan, kemauan adn kesabaran pasti kita bisa menghadapi dan mengatasi kesulitan itu. Satu contoh kesulitan yang paling besar adalah membangun rumah sakit. Saat itu saya hanya mempunyai keinginan membangun rumah sakit tetapi saya tidak punya uang dan orang. Saya bukan seorang pengusaha, bukan pula seorang dokter. Semua orang meramalkan pasti tidak jadi rumah sakit itu. Namun saya berkata pada diri saya: Di dunia ini asal ada kemauan, pasti saya bisa melakukan sesuatu dengan baik. Di dunia ini asal ada kesabaran, tidak mungkin saya tidak bisa menghadapinya?

(T) Saya merasa kagum melihat Tzu-Ci banyak membantu orang yang menderita. Misalkan sebagai orang cacat, bagaimana caranya bisa ikut bergabung dan membantu Tzu-Chi?
(J) Jangan merasa kecil hati. Yang penting ada keyakinan dan cinta kasih. Hal ini akan menghasilkan kekuatan besar.

(T) Saya melihat banyak sekali orang-orang Buddhis yang mencari keuntungan pribadi, dengan menggunakan nama Buddhis sebagai topeng? Mohon penjelasan sefu.
(J) Kamu harus percaya apa yang kamu percayai. Kerjakanlah apa yang mesti dikerjakan. Percaya apa yang kamu kerjakan. Dan kerjakan yang kamu percayai. Apabila orang itu mengaku Buddhis, tetapi perbuatannya tidak jujur dan tidak benar, maka sebenarnya dia itu bukan seorang Buddhis yang baik, hanya mengaku Buddhis saja. Karenanya kita jangan percaya dia.

(T) Mengapa setiap ceramah, sefu selalu menekankan perlunya bersungguh-sungguh dalam menggunakan hati untuk melakukan sesuatu?
(J) Jadi manusia itu bisa lupa diri dan selalu berbuat kesalahan. Saya selalu mengingatkan kalian untuk memperhatikan hati sendiri agar hati, badan, mulut dan pikiran tetap besih, tenang dan damai.

(T) Menurut sefu, mana yang lebih baik, membuat amal atau sembahyang di Vihara? (J) Dua-duanya juga baik, tergantung pada kesenangan kita. Kalau kita menyenangi amal, ya berbuatlah amal. Apabila kita menyenangi sembahyang di Vihara, ya lakukanlah perbuatan itu.

(T) Sefu berbuat amal begitu banyak apakah ada rasa lelah?
(J) Saya tidak merasa lelah karena saya melakukan dengan senang hati serta penuh kesadaran. Misalnya: Kita mendaki gunung. Biarpun gunung itu tinggi, namun kalau kita melakukannya dengan senang hati maka kita pasti akan dapat melakukannya.

(T) Ketika membangun Tzu-Chi di Hua-Lien, ada dermawan besar yang ingin memberikan dana. Tetapi sefu menolak. Dengan pertimbangan apa sefu menolaknya?
(J) Saya bukan karena mau membangun rumah sakit membuat saya membangun rumah sakit. Saya ingin membangun hati nurani umat manusia, dari sumbangan dana yang merupakan sumbangan dari hati mereka. Jadi setiap orang mendapat kesempatan untuk melakukannya. Apabila saya hanya menerima sumbangan dari satu orang saja, walaupun rumah sakit itu bisa dibangun, namun tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbuat kebaikan.

(T) Kalau sefu sudah tidak ada, siapa yang akan melanjutkan kegiatan Tzu-chi?
(J) Sebelum Buddha Parinibbana, Buddha tidak menunjuk siapa penggantinya. Tetapi semangat Buddha terus berlanjut, malah semakin berkembang sehingga semakin banyak orang yang memiliki hati Buddha. Jadi seluruh orang yang menyayangi Tzu-Chi tidak perlu mencemaskan Tzu-Chi, tetapi harus pakai semangat yang pada saat itu untuk memberikan kepastian/dorongan yang kuat, membersihkan diri sendiri untuk mendamaikan masyarakat ini.

(T) Saat ini di Hua-Lien sudah berdiri sebuah rumah sakit Tzu-Chi, tetapi sefu masih berencana untuk membangun rumah sakti di Ta Lin, dan bahkan nantinya diseluruh kota di Taiwan. Sebenarnya apa tujuan sefu berbuat demikian?
(J) Jumlah umat Tzu-Chi cukup banyak. Apalagi kegiatan hanya berpusat di Hua-Lien maka anggota-anggota Tzu-Chi diluar Hua-Lien tidak mendapat kesempatan berbuat kebajikan. Padahal banyak orang ingin berbuat kebajikan, tentu butuh penyuluran ke tempat yang benar-benar bermanfaat baik untuk dirinya maupun untuk semua orang. Kita mempunyai kewajiban untuk membantu mereka menjalankan semangat Bodhisattva.

 

 

Hits: 68